Penulisan
di sebagai Kata Depan
dan
di- sebagai Awalan
Menurut PUEBI
Bahasa Indonesia memiliki aturan penulisan yang jelas mengenai penggunaan di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Meskipun tampak sederhana, kesalahan penulisan bentuk ini masih sering ditemukan, baik dalam media sosial, surat resmi, karya ilmiah, maupun publikasi daring. Pemahaman yang tepat terhadap kaidah ini penting untuk menjaga ketepatan dan kredibilitas tulisan.
Dasar Aturan Menurut PUEBI
Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), terdapat perbedaan mendasar antara di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan.
1. di sebagai Kata Depan
Jika di berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan tempat, lokasi, atau arah, penulisannya dipisah dari kata yang mengikutinya.
Rumus:
di + tempat/lokasi
Contoh Kata
- di rumah
- di sekolah
- di kantor
- di pasar
- di Jakarta
- di dalam
- di luar
Contoh Kalimat
- Buku itu tersimpan di lemari.
- Para siswa sedang belajar di kelas.
- Seminar akan diselenggarakan di Bandung.
- Kucing itu bersembunyi di bawah meja.
Pada contoh-contoh tersebut, kata setelah di menunjukkan tempat atau lokasi sehingga penulisannya harus dipisah.
2. di- sebagai Awalan
Jika di- berfungsi sebagai awalan pembentuk verba pasif, penulisannya dirangkai dengan kata yang mengikutinya.
Rumus:
di- + kata kerja
Contoh Kata
- ditulis
- dibaca
- dikerjakan
- dipelajari
- dibangun
- diperbaiki
Contoh Kalimat
- Artikel itu ditulis oleh seorang dosen.
- Buku tersebut telah dibaca oleh banyak mahasiswa.
- Jembatan baru sedang dibangun oleh pemerintah.
- Tugas akhir harus dikerjakan secara mandiri.
Dalam contoh di atas, di- berfungsi sebagai imbuhan yang membentuk kalimat pasif, sehingga penulisannya harus dirangkai.
Cara Mudah Membedakan
Salah satu cara praktis untuk membedakan keduanya adalah dengan memperhatikan kata yang mengikutinya.
Jika menunjukkan tempat
Penulisannya dipisah.
Contoh:
- di kampus
- di perpustakaan
- di ruang rapat
Jika menunjukkan tindakan pasif
Penulisannya dirangkai.
Contoh:
- dipresentasikan
- dijelaskan
- dipublikasikan
Cara lain adalah dengan mengubah kalimat pasif menjadi aktif.
Contoh:
- Makalah itu ditulis oleh mahasiswa.
- Mahasiswa menulis makalah itu.
Karena dapat diubah menjadi bentuk aktif menulis, maka bentuk yang benar adalah ditulis (dirangkai).
Kesalahan yang Sering Terjadi
Berikut beberapa contoh kesalahan yang kerap ditemukan.
| Salah | Benar |
|---|---|
| dirumah | di rumah |
| disekolah | di sekolah |
| dikampus | di kampus |
| di tulis | ditulis |
| di baca | dibaca |
| di kerjakan | dikerjakan |
Kesalahan tersebut muncul karena penulis tidak membedakan fungsi di sebagai kata depan dan sebagai awalan.
Contoh Paragraf yang Memuat Keduanya
Pagi itu para peserta seminar berkumpul di auditorium universitas. Materi yang akan dibahas telah dipersiapkan beberapa minggu sebelumnya oleh panitia. Seluruh makalah yang akan dipresentasikan sudah dicetak dan dibagikan kepada peserta yang hadir di ruang registrasi. Setelah acara selesai, hasil diskusi akan diterbitkan dalam prosiding ilmiah dan dapat diakses oleh masyarakat di berbagai daerah.
Pada paragraf tersebut terdapat penggunaan kedua bentuk:
Kata depan (dipisah):
- di auditorium
- di ruang registrasi
- di berbagai daerah
Awalan (dirangkai):
- dipersiapkan
- dicetak
- diterbitkan
Penutup
Ketepatan penulisan di merupakan salah satu indikator penguasaan kaidah bahasa Indonesia yang baik. Secara sederhana, aturan ini dapat diringkas sebagai berikut:
- di + tempat/lokasi → ditulis terpisah (di rumah, di kantor, di Jakarta).
- di- + kata kerja pasif → ditulis serangkai (ditulis, dibaca, diperbaiki).
Dengan memahami perbedaan fungsi tersebut, penulis dapat menghindari kesalahan yang sering muncul dan menghasilkan tulisan yang lebih sesuai dengan kaidah PUEBI serta lebih profesional di mata pembaca.



Tidak ada komentar:
Harap beri komentar yang positif. Oke boss.....